Tuesday, September 29, 2009

terima kasih

hujan.

seketika membawa pikiranku akan gadis itu.

ia berasal dari sebuah keluarga biasa dengan kehidupan yang biasa.
dari luar terlihat sama seperti gadis-gadis pada umumnya,
kecuali kenyataan bahwa kulitnya jauh lebih pucat.

ia juga banyak berceloteh seperti yang lain, juga suka tertawa-tawa,
tapi sebenarnya sedikit sekali yang orang tahu tentang dirinya.

ia sebenarnya penyakitan.
walau memang seumur hidupnya belum pernah dirawat di rumah sakit.
tapi penyakitnya ada beberapa,
walau tidak parah ataupun mengancam jiwa.

tubuhnya lemah.
ia tidak dapat berjalan dengan cepat seperti orang pada umumnya.
terkadang ia memaksakan diri melakukan itu,
walau setelahnya dadanya terasa begitu sesak.

ia pernah berobat ke ahli jantung,
tapi semuanya normal, tidak ada masalah.
ia lemah karena kurang darah, begitu menurut teman-temannya.

ia juga tidak bisa berjalan jauh, ataupun mengerjakan tugas yang berat.
tubuhnya terlalu lemah untuk itu,
tapi ia suka melakukannya.
ia suka berjalan, melakukan berbagai hal.

ia sering tertinggal dari teman-temannya karena tubuh lemahnya itu.
teman-temannya sering berkata bahwa ia lamban,
mereka mengatakannya sambil tertawa-tawa,
ia hanya balik tersenyum,
menatap mereka yang telah berjalan jauh meninggalkannya, sendiri.

seringkali saat ia berusaha bangkit dengan susah payah dan mencoba mengejar mereka,
ia terjatuh, oleh kerikil-kerikil kecil atau jalanan yang berlubang,
lututnya tergores, kakinya terluka.
belum lagi nafasnya yang terasa begitu sesak.

tapi tidak seorang pun tahu.
mereka telah berada jauh di depan,
tanpa menyadari bahwa ia tidak ada, ia hilang, ia sendiri.
mereka kira ia baik-baik saja.

pada akhirnya ia pun berusaha mengobati lukanya sendiri,
mengelapnya dengan bajunya,
di bajunya noda darah bercerceran,
tangan kanannya berusaha memegangi dadanya yang naik-turun,
meringis menahan perih dan sesak, sendirian.

begitulah yang terjadi pada gadis itu,
dari dulu, sekian lama.

hingga akhirnya di suatu hari ia tersandung oleh kerikil besar.
tangan, kaki, dan wajahnya tergores.
darah dan luka dimana-mana. dalam.
ia berusaha bangkit sekuat tenaga, namun sia-sia.
ia tetap tidak dapat bangkit,
hanya mampu menangis.

sampai ia melihatnya.
sebuah tangan di depan matanya.
tangan itu terjulur, ia bingung.

pemilik tangan itulalu duduk di depannya.
menghapus peluhnya, mengobati luka-lukanya, membantunya berdiri,
menepuk-nepuk bahunya membantunya untuk bernafas.

dan pemilik tangan itu menyeka air matanya,
dengan jemarinya, perlahan.

gadis itu hanya bisa diam menatap sang pemilik tangan lekat.
untuk sekian waktu ia kehilangan kata-kata.
sampai akhirnya kata itu terucap,

"terima kasih"


pemilik tangan itu tersenyum. menggenggam tangannya. lalu mereka berjalan ke depan dengan pelan.


bersama-sama.

No comments: