Monday, August 24, 2009

au revoir, dr. alia...

Semalam aku tidak bisa tidur.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB, but I just couldn’t sleep.

Terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya diam. Ini bukan kali pertama aku masih terjaga di tengah malam seperti. Ini malah hal yang biasanya rutin aku lakukan, setiap kurang lebih selama seminggu dalam setiap bulan. Setiap akan menghadapi ujian MCQ di setiap bloknya. Malam-malam panjang yang aku habiskan dengan tenggelam dalam buku-buku tebal dan slide-slide kedokteran yang berbahasa inggris yang harus ditelaah kembali sebelum menghadapi ujian yang sesungguhnya.


Tapi semalam berbeda. Tidak ada buku-buku tebal. Tidak ada slide. Hanya aku sendiri. Diam dengan perasaan dan pikiran yang tidak keruan.


Kemarin sekitar pukul 6 sore aku mendapatkan sebuah berita duka.

Putri pertama dr. Agustria Zainu Saleh, Sp. OG(K) Onk, dr. Alia, meninggal dunia. Aku mengulang-ngulang kata itu dalam hati, berkali-kali. Meninggal dunia. Meninggal dunia. Mataku panas, bajuku basah oleh airmata.


Aku memang tidak mengenal dr. Alia. Bertemu dengannya saja belum pernah. Tapi aku tau dengan ayahnya, dr. Agustria. Aku masih ingat dulu aku sewaktu aku masih kecil, sangat kecil, aku bersama papa sering menemani mama ke sana. Kami memang tidak ikut masuk dan bertemu dengannya secara langsung, hanya menunggu di ruang tunggu. Tapi setiap kali mama keluar dari ruangan praktek beliau, mama pasti selalu berkata bahwa beliau ramah sekali dan peduli dengan pasiennya, berbeda dengan para dokter pada umumnya. “Nanti kalau kakak jadi dokter, harus ramah seperti itu juga ya”, begitu kalimat selanjutnya yang disampaikan mama padaku.


Dari perkataan mamaku itu saja aku dapat mengetahui kalau dr. Agustria merupakan dokter yang baik, dokter yang ramah, dan peduli dengan pasiennya. Keluarganya pun merupakan keluarga yang baik, begitu setidaknya yang aku tau dari temanku, Sara. Tidak ada yang salah dengan mereka karena mereka selalu baik pada semua orang. Karena itulah, membayangkan mereka harus menghadapi cobaan & kesedihan sebesar ini membuat mataku panas, dan aku menangis. Dr. Alia anak pertama, sama sepertiku, yang menjadi harapan orang tuanya & contoh bagi adik-adiknya. Dan kini dia telah pergi menghadap Allah SWT. Begitu cepat di usianya yang belia. Begitu cepat.


Seketika kata kematian terasa pedih sekali bagiku. Kematian yang sudah menjadi bagian dari takdir Allah SWT. Kematian yang misterius, yang datang secara diam-diam, mengambil orang yang kita cintai secara menyakitkan, dengan begitu cepat.


Karena itulah aku tidak bisa tidur.

Pikiranku terbang kemana-kemana. Aku seketika teringat dengan orang-orang yang aku cintai, yang aku sayangi, yang sekarang begitu jauh. Aku teringat pada adikku Ketie yang sedang kuliah di depok. Aku teringat pada dia yang begitu jauh, pada Kay. Aku teringat pada hostfamku di Belgia, pada Andrea di Costa Rica, pada Jabek yang ada di Malay, pada eupho, pada Mega, Vina...


Aku sayang sekali dengan mereka.

Mereka yang kini begitu jauh. Pikiran kacauku membayangkan kalau satu persatu dari mereka tiba-tiba pergi. Diambil oleh kematian. Diambil oleh Allah SWT. Atau sebaliknya aku yang pergi mendahului mereka. Sementara aku belum bisa bertemu dengan mereka. Sementara mereka jauh. Sementara aku belum sempat mengatakan secara langsung, secara jujur kepada mereka, bahwa aku sangat menyayangi mereka.


Mataku panas, aku tidak bisa berhenti menangis.


Semoga Allah SWT melindungi mereka semua, orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang sekarang begitu jauh.


Selamat jalan dr. Alia, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah SWT, aamiin ya robbal’lamiin.



24 Agustus 2009

06.30

2 comments:

-=-IpanG-=- said...

Inilah hidup, inilah kematian. kita hidup, mestinya memang harus mati. terkadang kita lupa (apalagi jika kita masih muda) bahwa kematian itu tidak pandang usia, muda bukan jaminan tidak mendapati maut, dan tua juga bukan hal pasti bahwa dia akan mati besok.

makanya harus selalu bersiap dengan kemungkinan bahwa kita bisa saja mati besok, hikmahnya adalah, kita jadi tidak lalai dengan ibadah kita, karena kita berpikir kita akan meninggal secepatnya.

semoga keimanan dan ibadah kita selalu ada di hati sampai kita melewati masa itu...

Prisya Dhiba Ramadhani said...

aamiin ya Robbal'alamiin..