Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Thursday, March 29, 2012

Kay

Hallo, Kay. Apa kabar?

Aku baru saja membaca beberapa tulisan lama di blog ini. Banyak sekali tulisan tentangmu ya? Banyak sekali. Ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada banyak ungkapan perasaan yang mendalam. Bagaimana keadaanmu sekarang? Bagaimana Solo? Ternyata, setelah hampir 3 tahun berlalu aku masih tidak mendapat menjejakkan kaki di kota yang sangat indah menurutmu itu.

Kau tahu, aneh sekali, kadang-kadang aku masih sering memikirkanmu. Pemikiran-pemikiranmu, lagu-lagu Jason Mraz itu, kata-katamu tentang jarak Palembang-Solo yang hanya beberapa ratus kilometer saja.

Lucu ya, betapa dua orang asing yang terpisah jarak begitu jauh, bisa merasa begitu dekat.

Aku masih membaca Rectoverso, kau tahu? Aku masih membacanya berkali-kali. Peluk, Hanya Isyarat, Tidur. Seakan membacanya sekali saja tidak cukup. Aku masih belum menemukan sosok yang bisa mengobati hausku akan tulisan sepertimu. Tulisanmu yang begitu hidup. Satu-satunya hal yang mungkin menyatukan kita.

Aku sedang terjebak sekarang Kay, menyedihkan sekali. Aku terjebak dalam keterasingan. Dan tidak ada tempat seperti pinggiran pantai di Gent atau Piazza Navona di Roma. Aku terjebak dalam rutinitas yang menjemukan, orang-orang yang bergunjing dan tidak dapat dipercaya, masa lalu yang masih mengekang, dan sebuah hubungan yang rumit.

Seandainya aku lelaki, aku sudah mengambil sebuah ransel dan berangkat ke Solo. Kemudian aku akan mengajakmu mengelilingi Notre Dame dan menjelaskan kisah Monet, Manet, dan Renoir yang aku kagumi mengenai kisah mereka besar di Mont Matre. Aku juga akan menjelaskan beragam tipe arsitektur gereja di Itali, tentu saja.

Tapi kita hanya bisa bermimpi ya, Kay. Seperti mimpi-mimpi kita dulu. Tentang gadis kecil dan bintang. Tentang jarak beratus kilometer yang dikalahkan oleh bulan purnama yang sama-sama kita lihat. Purnama yang selalu sama, di Assisi, di Brugge, di Paris.

Aku tidak tahu lagi harus berkata apa, Kay. Tapi dirimu pasti tahu. Dirimu selalu tahu apa yang tidak pernah aku katakan. Dirimu yang tidak seperti orang lain, yang mengatakan apa yang sebenarnya tidak mereka tahu.



Di suatu momentum, garis kehidupan kita akan bertemu pada suatu titik lagi, Kay.
Entah kapan.

Wednesday, August 31, 2011

Hujan, Terik, dan Mendung.

Apa yang kita harapkan ketika hujan,
ketika rintiknya yang basah tiba tetes demi tetes menghampiri tanah.
kesenduan, kesedihan, kebahagiaan, keriaan, ataupun pelangi yang menari.

Apa yang kita harapkan ketika terik,
ketika sengatnya yang hangat datang membelai setiap inchi permukaan ciptaan Tuhan,
ketangguhan, kesabaran, peluh dan keluh, ataupun semangat menantang matahari.

Apa yang kita harapkan ketika mendung,
ketika kelabunya mewarnai birunya langit, mengubahnya menjadi sendu yang terlalu,
kehampaan, rasa takut dan was-was, ketidakpastian, ataupun secercah harapan akan masa depan.

Hujan, terik, dan mendung.
Yang terus-menerus menari.

Monday, January 03, 2011

Rain


It's raining.

Sooner or later,
I know this thing will happen to us.




Get well soon.
I'll keep praying for you.

Tuesday, December 14, 2010

I'm so grateful

Today I'm so grateful for:
  • always having Allah The Almighty by my side
  • woke up at 4 a.m. and did my MPK homework successfully
  • eat the very delicious breakfast meal made by my lovely Mom
  • went to Layo right at 7.30 am but still wasn't too late to join the 1st lecture
  • having a good time with friends
  • meet my child Cindy at her economy faculty's mosque
  • spending a great and meaningful afternoon time with Ma cher and seeing him and his great smile
  • having the chance to greet Daddy right when he's home
  • having another family dinner with Mom and Dad
  • having a little chat with my little sister
  • currently listening to the beautiful rain drops outside
  • always having the blessing chance to sharing with Ma cher every night at 9 pm
  • always been blessed everyday, every time, now and forever.
Alhamdulillah :)

Friday, November 12, 2010

Promise

Reshaping our life. Make a new step for a humble and kind one.



future says

Sunday, November 07, 2010

In Fact

In fact, nothing has change.
I'm still the stranger who lives in your untouchable world.








Saturday, October 30, 2010

Alhamdulillah

"Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Al-Quran Surah Az Zumar ayat 53)


Terima kasih kepada papa yang selalu mendoakan di setiap akhir sholatnya, kepada mama yang selalu melimpahkan kasih sayangnya yang teramat sangat, kepada achmad ritopan yang selalu memberi semangat, menemani di kala senang dan susah, selalu ada untuk membantu berjuang, kepada dr. Amir Fauzi, Sp. OG (K) yang telah berkenan untuk selalu ditemui, membimbing dengan sabar, dan memeriksa proposal skripsi dengan seksama, kepada dr. Putri Mirani, Sp. OG yang telah membimbing dengan penuh keramahan dan selalu memberikan senyuman, kepada dr. Mutiara Budi Azhar, SU, Mmed. Sc yang telah banyak memberikan ilmu, membuka cakrawala pikiran, mengajarkan begitu banyak pelajaran kehidupan, dan membuat sadar akan arti kekayaan hati yang sesungguhnya.

Alhamdulillahi Robbil'alamiin.
Hasbunallah wa ni'mal wakiil.




Terkadang hidup memang berat.
Membuat kita hampir menyerah.
Tapi aku percaya Kaulah pelindungku.
Penciptaku dan hidupku.

Sabarkan hatiku, kuatkan imanku.
Berkahi aku dan keluargaku dengan rahmatMu.

Tuhan,
Kaulah cintaKu.


Sunday, October 24, 2010

Tuhan Maha Cinta

Tahukah Tuhanmu, selalu hidup di dalam hatimu.

Cinta dari-Nya menjawab semua masalahmu.

Dia mendengar, melihat, dan selalu berfirman.


Perangi neraka di dalam hatimu.

Damaikan jiwamu dengan cinta Dia.

Memberi yang ikhlas kepada yang butuh.

Bersyukurlah terus tanpa kenal waktu.


Serukan, ikhlaskan, pasrahkanlah hanya kepada-Nya.

Cinta-Nya adalah jawaban-Nya.

Karena Tuhanlah Maha Cinta.


Karena Tuhanlah Maha Cinta.


Tahukah Tuhanmu, selalu hidup di dalam hatimu.

Cinta dari-Nya menjawab semua masalahmu.

Dia mendengar, melihat, dan selalu berfirman.


Perangi neraka di dalam hatimu.

Damaikan jiwamu dengan cinta Dia.

Memberi yang ikhlas kepada yang butuh.

Bersyukurlah terus tanpa kenal waktu.


Serukan, ikhlaskan, pasrahkanlah hanya kepada-Nya.

Cinta-Nya adalah jawaban-Nya.

Karena Tuhanlah Maha Cinta.

Karena Tuhanlah Maha Cinta.


Terkadang hidup memang berat.

Membuat kita hampir menyerah.

Tapi aku percaya Kau-lah pelindungku.

Penciptaku dan hidupku.

Sabarkan hatiku kuatkan imanku.

Berkahi aku dan keluargaku dengan rahmatMu.

Tuhan,

Kaulah cintaku..


Tuhan Kau Maha Pengasih.

Tuhan Kau Maha Penyayang.

Serukan, ikhlaskan, pasrahkanlah hanya kepada-Nya.

Cinta-Nya adalah jawaban-Nya.

Tuhan Kaulah Sang Pencerah.

Tuhan Kaulah Sang Pencerah.





Tuhan Maha Cinta-Nidji

Sunday, January 17, 2010

pemulung..



Sekitar 2 hari yang lalu saya blogwalking dan menemukan (atau lebih tepatnya ditemukan) dengan sebuah blog milik seorang teman baru bernama Alfaro. Saya belum sempat membaca semua tulisan di blognya, tapi saya cukup tertarik untuk membaca postingan terakhirnya yang bertajuk Menjadi Pemulung. Saya pribadi sangat merekomendasikan kalian untuk membaca tulisan tersebut untuk mendapatkan sedikit pencerahan mengenai keberadaan pemulung di sekitar kita sekaligus mendapatkan link antara tulisan tersebut dengan tulisan saya ini.

Apakah anda pernah melihat pemulung?
Pasti pernah kan ya, baik secara langsung ataupun sekedar melihat sosok tersebut di TV.
Sekarang coba kita ingat-ingat kembali pernahkah kita bertemu sama pemulung? Atau sekedar melihat pemulung dari jauh di jalan atau di depan tempat pembuangan akhir(TPA). Ataupun kalau memang belum pernah lihat, setidaknya sekarang coba bayangkan kalau anda sedang melihat seorang pemulung yang sedang melaksanakan tugas hariannya, memungut sampah.

Apa yang anda rasakan?
Jijik? Mual? Ingin muntah? Ingin jauh-jauh dan cepat-cepat pergi dari makhluk dengan tubuh kotor tak terawat, baju compang-camping, dengan tas karung usang berisi sampah, dan sebuah kawat karatan?

Jika jawabannya adalah ya, maka cobalah berkaca pada diri anda sekarang.
Apa menurut anda profesi, sikap dan tingkah laku anda masih jauh lebih baik dari seorang pemulung?
Apa anda sudah cukup berperan melestarikan lingkungan seperti mereka?

Dan jika jawabannya adalah tidak, selamat, berarti anda masih punya hati nurani.

Tragis memang,
betapa pada kenyataannya keberadaan pemulung di indonesia begitu diabaikan dan cenderung distigmakan.
Kita tidak suka dengan kehadiran pemulung, padahal faktanya kita yang sering buang sampah sembarangan.
Kita jijik melihat pemulung menggeruk sampah yang sudah bercampur baur tak keruan, kotor, dan sangat bau padahal kalau saja kita mau memilah sampah menjadi sampah basah dan sampah kering, para pemulung bisa memunguti sampah kering yang masih bisa digunakan dalam keadaan bersih dan tidak bau.

Kita sering menghina mereka, tanpa sadar kalau sebenarnya kita jauh lebih hina.
Kita sering merendahkan, dan bahkan mungkin membenci kaum yang kita anggap rendahan seperti pemulung, pengemis, pengamen, peminta-minta, dan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan lainnya, tanpa sadar kalau kita -manusia yang suka menghambur-hamburkan uang di atas penderitaan saudaranya-lah yang jauh lebih hina.

"Manusia senang merendahkan manusia lain yang dia anggap lebih rendah, tanpa sadar kalau dengan aksi merendahkannya itu dirinyalah manusia yang paling rendah di mata Tuhan"

Seharusnya para pemulung mendapat gelar pahlawan lingkungan, mendapatkan gaji dan tempat tinggal yang layak dari pemerintah, atas semua jasanya membantu pelestarian lingkungan melalui pemungutan sampah untuk didaur ulang.

Seharusnya..

Monday, January 11, 2010

from 18 to 21

Alhamdulillah...

Ga kerasa ya, udah 2010 aja..
Walopun kata sebagian orang kalimat di atas klise, tapi buat gue begitulah adanya. Hidup gue terasa cepet banget berlalu setelah kepulangan gue dari belgia, atau tepatnya pasca ulang tahun gue ke 18 yang dirayain di belgia bareng hostdad Erik, hostmom Carine, Opa Jos, Oma Gerda, Daniel, sahabat gue di Mater Dei Els, sahabat-sahabat AFS gue Andrea dari Costa Rica, Macarena dari Paraguay, Fa dari Thailand, dan sahabat-sahabat kecil gue yang baru kelas 6 SD Anke, Mieke, dan Lien.

Balik bentar ke ultah gue ke-18 itu..
Gue inget banget gimana ekspresi geli hostdad waktu ngedenger statement gue yang mati-matian minta diakui sedang ultah ke-17 tahun lagi -bukan malah ke-18-. Alasan gue waktu itu adalah dengan berumur 18 berarti gue udah tua dan akan terus bertambah tua tentunya. Sedangkan gue ga mau jadi tua dari tahun ke tahun. Gue inget banget gimana hostdad sampe ketawa dengan tawa khas kebapak-bapakannya sambil terus ngingetin gue yang teramat sangat keras kepala ini kalo gue ulang tahun ke-18, bukan ke-17. What a memory..

Yah, mungkin kedengerannya childish banget yak, tapi begitulah adanya. Waktu itu yang ada di pikiran gue adalah, di saat umur gue bertambah ke 18, 19, 20, dan seterusnya, hidup gue bakal jadi tambah rumit, tambah kompleks, tambah menjadi kurang menyenangkan. Dan gue pikir seiiring dengan bertambahnya usia pun orang-orang di sekitar gue bakal berubah. Orangtua bakal lebih banyak nuntut, pengen kita lulus kuliah tepat waktu, IP gede, kalo bisa cumlaude kenapa ga (yang satu ini bokap gue banget). Adek-adek gue bakal lebih menuntut gue untuk jadi lebih dewasa yang artinya gue ga bisa lagi sering-sering bertingkah barbar ke mereka (secara udah tuwir), sahabat-sahabat gue di SMA bakal sibuk dengan kuliah dan problematika hidup mereka masing-masing, dan temen-temen gue yang bakal gue miliki di kampus pun bakal jauh lebih INDIVIDUALIS. Dan itu semua terbukti bener.

Sepulang gue dari Belgi..
Sahabat-sahabat gue mulai sulit dihubungi dan diajak ketemuan. Mereka sibuk kuliah, Jabek malah kuliah nun jauh di Malay. Sebenernya kita sering banget ketemuan untuk kategori orang yang masih sahabatan sampe sekarang, tapi jarang banget bisa lengkap berlima atau bisa lama-lama. Lantas temen-temen gue di kampus asli jauh lebih individual. Entah karena emang hal tersebut merupakan ciri khas mahasiswa kedokteran secara umum yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi atau karena guenya aja yang biasa sekelas 3 tahun di SMP dan 2 tahun di SMA dengan orang-orang yang itu-itu aja sehingga bagi gue persahabatan dan kebersamaan itu penting.

Lantas enyak babe gue, mereka ga banyak berubah sih, tetep sayang sama gue, tapi di pertengahan tahun lalu gue sempet ngerasa capek sama mereka yang masih aja nuntut lebih ke gue padahal gue udah setengah mati kuliah di kedokteran ambil jadi anak BEM, ketua Medifka, Pimred BPN ISMKI, MC-MC acara FK, MC pelantikan s. ked dan dokter, dan jadi panitia ini itu lainnya. Dan nyokap bokap gue masih nyuruh gue nyoba jadi presenter acara kesehatan di TV lokal, zzz... dan seolah ga cukup, baru-baru ini gue laporan ke nyokap,

"Ma, pengumuman beasiswa prestasi udah dipajang. Nama kakak ada, IPnya dicantumin pula"

"Emang IP kamu berapa?"

"3 koma 5, yang 2 komaan banyak juga lho ma"(dengan suara memelas minta ampun)

dan taukah anda respon emak gue? respon emak gue adalah,

"Hmm berarti turun nol koma satu. Kemaren2 kan 3 koma 6, itu kenapa kok bisa turun?"

zzzzzz...

Among all, yang paling gue rasain pasca ulang tahun dan pulang ke Indonesia adalah,

ga ada perubahan berarti dalam hidup gue :(

Gue masih gini-gini aja selama hampir 3 tahun dari kepulangan gue. Masih barbar di rumah, masih 'bertopeng' di kampus, masih makan kayak kuli(walo lebih terkontrol), masih suka males belajar, masih stuck belajar nyetir, masih ga bisa bawa motor dan masih ga bisa MASAK.
sementara itu bahasa Belanda gue mengalami degradasi, gue tambah sering ngebo, dan tambah sering begadang bermalam-malam, huff...

Paling banter hal yang gue capai selama hampir 3 tahun ini adalah gue berhasil beranjak dari berat 56 kilo ke 46 kilo dan gue mulai belajar bahasa perancis. That's all.

Karena itulah di tahun ini gue pengen banget berubah, jadi lebih baik? Oke bagi gue kedengerannya terlalu klise dan kurang spesifik, jadi ini yang gue bener-bener mau:

Resolusi Tahun Baru Gue

  • Lebih deket dengan Allah SWT, dalam segala aspek.
  • Mencoba memberi pengertian kepada orang tua gue kalo gue adalah manusia biasa, bukan power puff girl apalagi wonder woman.
  • Berhenti atau paling ga mulai mengurangi sifat barbar gue di rumah.
  • Mengurangi aktivitas hibernasi dan menambah jam belajar.
  • Belajar masak, lanjut belajar nyetir sama bokap sampe bisa bawa sendiri ke kampus dan mulai belajar motor (iye, gue emang cupu enggak bisa naek motor).
  • Mulai merintis karir sebagai vegetarian
  • Dan terakhir, melepas 'topeng' gue dimana pun dan menjadi diri gue sendiri.
That's all my list.
Gue akan berusaha untuk ngewujudin SEMUANYA, untuk diri gue sendiri, untuk usia 21 tahun yang lebih baik.

Insya Allah.

Thursday, December 31, 2009

hati dan pilihan

hatimu mungkin memilihku,
seperti juga hatiku selalu memilihmu.
tapi kadang hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain.
kadang, begitu saja sudah cukup.

sekarang aku pun merasa cukup.


poyan.
(perahu kertas-dewi lestari)

untuk seseorang yang tepat, di waktu dan tempat yang salah.

kenangan

kenangan itu cuma hantu di sudut pikir.
selama kita cuma diam dan tidak berbuat apa-apa,
selamanya dia akan tetap menjadi hantu.

tidak akan pernah menjadi kenyataan.



luhde.
(perahu kertas-dewi lestari)

Tuesday, December 08, 2009

dearest Allah SWT

dearest Allah SWT,

thank you so much for everything.
I'm very grateful for having You in every single time that I have, every single air that I breath.
I want to become closer and closer with You.
You're the only one who accompany me whenever I feel sad and alone.
You forgive my mistakes, You always be there for me.
Your love is so pure, priceless and timeless.

merci beaucoup, mon Dieu :)

Monday, December 07, 2009

mon ami

mon ami,
kamu tahu?
aku sedih melihat kamu selalu begitu.

kamu bilang mau mendengarkan,
tapi apa yang kamu lakukan?
kamu selalu menyalahkan, kamu selalu menghakimi.

mon ami,
maaf,
tapi kamu tidak sebijaksana itu, kamu tidak selalu benar.
itulah kenyataannnya.

tidakkah kamu letih?
tidakkah kamu letih selalu menyalahkan dan menghakimi orang lain selama 2 tahun ini?

kapan kamu mau mencoba melihat dari sudut pandang orang lain?

mon ami,
maaf,
tapi aku sedih melihat kamu selalu begitu.

dan aku tidak bisa apa-apa.
aku sudah mengingatkan, aku sudah memberi tahu,
tapi seperti biasa,
kamu selalu mengganggap dirimu benar, tidak pernah salah.

mon ami,
aku letih,
maafkan aku.

Sunday, November 29, 2009

a letter from a 'father'

Dear Prisya,
A perfectionist is a person who is displeased by anything that does not meet very high standards, a person who strives for or demands the highest standards of excellence in work, etc. Nothing wrong to be perfectionist as long as we realize that "There are no perfect men in the world; only perfect INTENTIONS."

It is absolutely vital in a good Islamic marriage that the wife respect her husband, otherwise the marriage is going to be a miserable business. Since one of the basic ground-rules of Islamic marriage is that the husband is the 'imam' and the head of the household, he has to prove himself worthy of that position, and that he can leads you to happiness in this life and in the Hereafter.

So, don’t worry, keep trying to find the prince of your dream who is intelligent, patient, humorist, mature, and religious, of course.

May Allah guide you to find your soul-mate, and may Allah guide all of us, Amin.

Votre accueil, cher. Pouvoir Dieu vous bénit.

dr. Mutiara Budi Azhar, SU, M.Med.Sc
Nov 28th 2009
17.55



merci beaucoup, monsieur budi.
que Dieu vous bénisse aussi

Saturday, November 28, 2009

les choristes


les choristes

beberapa hari yang lalu, gue nonton film yang diputer di world cinema Metro TV, judulnya Old Boy. dan di mata gue, film ini adalah salah satu film festival yang paling bagus yang pernah gue tonton. mulai dari akting tokoh utamanya, sampe ke alur ceritanya.

dari dulu, gue selalu suka nonton film-film festival. film festival pertama yang gue tonton adalah L'Enfant, sebuah film festival perancis yang gue tonton di kelas bahasa perancis waktu gue masih sekolah di belgia dulu. Terus ada Les Choristes yang gue tonton dalam perjalanan dari Belgia ke Itali, sama Paris, Je t'aime, yang ini gue tonton di Metro TV juga, yang keduanya sama-sama film perancis.

lantas ada The Constant Gardener, Pan's Labyrinth, sama Das Parfum. semuanya gue tonton di bioskop kota Neerpelt, tetangga kota kecil gue Overpelt. terus ada film berbahasa portugis yang bagus banget, Central do Brasil. terakhir film festival yang gue tonton di Indonesia dan udah berkali-kali tapi ga pernah bikin bosen, Children of Heaven.

dari semua yang gue tonton, hampir semua jadi favorit gue, tapi yang paling gue suka adalah Les Choristes sama The Constant Gardener. semua aspek dalam filmnya, bagus banget. temanya juga beda, ga seperti film hollywood kebanyakan. sedangkan endingnya, ga mutlak happy ending kayak film-fim buatan negeri Paman Sam itu.

satu hal yang sering gue sayangkan adalah kenyataan bahwa gue tinggal di palembang. coba kalo gue tinggal di jakarta atau bandung, gue bisa lebih banyak nonton film-film festival dgn dateng ke Jiffest misalnya. gue secara pribadi emang ga terlalu suka nonton ke bioskop mantengin semua film hollywood terbaru, gue prefer beli buku daripada beli tiket bioskop. tapi kalo buat film festival, gue rela deh kalo harus menguras kocek bahkan ngantri berjam-jam biar bisa nonton.

satu hal yang menurut gue jadi perbedaan mendasar antara film festival sama film yang diputer di bioskop (film-film hollywood), di film-film festival, lo bisa dapet sesuatu yang jarang bisa lo dapetin di film lainnya. lo bisa dapet 'pelajaran' yang lebih, sesuatu yang begitu bermakna. bukan sekedar dateng-nonton-terus pulang. lo bisa dapet 'sesuatu' untuk direnungkan, sesuatu yang bakal terus lo inget sampe kapanpun.

ke depan, gue berharap bisa terus nonton film-film festival, walo untuk sekarang cuma bisa nonton via world cinema Metro TV.

gue pengen terus merenung. ngedapetin hal-hal bermakna dan berharga dari film-film festival, untuk dijadiin pembelajaran hidup, karena gue pengen terus belajar, karena gue pengen jadi lebih bijak dalam menyikapi hidup :)


insya Allah, aamiin.

idul adha tahun ini

entah kenapa, udah beberapa tahun terakhir gue ngerasa tiap lebaran, entah itu idul fitri atau idul adha, suasananya bertambah sepi dibandingin dulu-dulu banget.

kalo dipikir-pikir, ya mungkin karena waktu jaman dulu-dulu banget itu, tepatnya saat gue masih kecil, rumah gue selalu rame sama sepupu gue yang seabreg-abreg yang juga masih pada kecil-kecil. dan gue juga selalu dapet duit lebaran a.k.a salam tempel yang bikin lebaran di mata gue kala itu tambah rame.

sementara sekarang, sepupu-sepupu gue udah pada gede semua, termasuk gue sendiri. kita sama-sama sibuk, sibuk oleh tugas kuliah, kerjaan, atopun ngurusin anak bagi sepupu gue yang udah pada nikah. mereka juga udah pada mencar-mencar, ga bisa ngumpul-ngumpul kaya dulu lagi.

tapi satu hal yang gue sadari, seiring dengan sepinya lebaran dari tahun ke tahun, tiap malem lebaran gue jadi lebih sering merenung. mikirin apa-apa aja yang udah gue lakuin selama hidup di dunia ini. kedengerannya emang klise ya, tapi emang gitulah adanya. di saat takbir berkumandang di masjid, gue duduk diem di kamar dalam gelap, ngeliat keluar jendela yang sengaja dibuka. gue merenung, mencoba me-review kembali apa aja yang udah gue lakuin selama ini,

kesalahan-kesalahan gue,
kekhilafan-kekhilafan gue.

dan perenungan beberapa saat itu, berhasil membuat gue merasa terlahir kembali. engga tau kenapa. di momen-momen itu juga, gue memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal sama masa lalu gue yang seringnya membuat gue kepikiran di hampir setiap malam sebelum gue tidur.

dan itu semua juga udah gue lakuin di malam takbiran idul adha tahun ini.
walo lebaran tahun ini kembali sepi, tapi gue bersyukur,

bisa terlahir kembali.



selamat tinggal masa lalu.

Thursday, November 26, 2009

merpati putih

mengering sudah bunga di pelukan
merpati putih berarak pulang terbang menerjang badai
tinggi di awan, menghilang di langit yang hitam

s'lamat berpisah kenangan bercinta
sampai kapankah jadinya aku harus menunggu
hari bahagia seperti dulu

bersama kasih kembali mesra
bercumbu langit memadu satu janji berjuta bintang
dalam pelukan sehangat pagi yang cerah

selamat berpisah kenangan cinta.

Wednesday, November 25, 2009

paradox

the paradox of our time in history is that we have taller buildings but shorter tempers,

wider freeways, but narrower viewpoints.

we have multiplied our possessions, but reduced our values.

we talk too much, love too seldom, and hate too often.

(dhimas satria pinilih)



hartelijk bedankt voor maken mij geinspireerd, dhim.

Monday, November 23, 2009

silent

bonjour, mensen..

jam di laptop gue menunjukkan pukul 6:17 pagi yang artinya bentar lagi gue mesti siap-siap berangkat ke kampus.

gue sengaja nyempet-nyempetin nge-post pagi ini buat ngebagi 'sesuatu' buat kalian. jadi ceritanya pagi ini gue baru aja nemuin another inspiration dari blog jason mraz yang gue baca. judul postnya kali ini adalah the lightness of being quiet. dari judulnya gue rasa lo semua bisa nebak isi dari postingan itu sendiri. dan gue setelah ngebacanya, berhasil mendapatkan sebuah perenungan buat hidup gue.

selama ini entah udah berapa juta kata keluar dari mulut gue. entah itu perkataan serius, biasa aja, atau sekedar becandaan yang (mungkin) enggak penting sama sekali. yang mungkin aja justru nyakitin orang lain.

dari dulu, gue punya teori bahwa permasalahan yang ada di dunia ini, yang terjadi antara sesama manusia, terjadi lebih dari 90% karena miscommunication, misunderstanding.

kita, manusia, termasuk gue sendiri, suka berbicara, suka berbagi. tapi sayangnya, kita terkadang sering berasumsi sendiri menanggapi perkataan yang dilontarkan lawan bicara kita, verbal maupun non verbal. kita suka bicara, tapi di saat kita ga paham, ga ngerti apa yang lawan bicara kita maksud, kita cenderung tidak mau bertanya, lebih memilih untuk berasumsi sendiri, yang akhirnya berakhir pada sebuah kesalahpahaman.

entah kita yang terlalu banyak berbicara sehingga ga menyediakan cukup ruang dan waktu untuk lawan bicara kita memahami dengan sepenuhnya, ataukah memang kita hanya ingin terus berbicara, tapi mencoba untuk memahami.

dan dari apa yang gue baca, dari apa yang gue dapet selama ini, gue akhirnya sampai pada kesimpulan:

dengan diam, kita bisa banyak belajar untuk saling memahami,
dengan cara yang berbeda.




maka apabila kamu tidak dapat mengatakan hal-hal yang baik,
maka diamlah.



dus, ik zal proberen om een stil meisje te worden.