Saturday, January 28, 2012
6 years ago
I was using my blue shirt with a pair of blue jeans and a white veil in the day of my departure. My whole family was there, in the airport, my Dad, my Mom, my little sister Ketie, and my little brother Didi. There were also some members of my big family, Grandpa, Aunt, Uncle, and my little nephew Rangga
I saw them closely, each of them. And I could see it, their feelings. Their eyes shows me all of their hopes, fears, happiness, and prayers. I wasn't sad at that time. I was truly excited, but deep in my heart, it felt like it was hardly crying. I gave my family a deep hug and stares, to made them sure that everything will be alright. I gave my sister and brother a siblings hugs and touch their little heads. I said, "Make sure everything's alright, okay? Don't forget to take care of Mom and Dad", I winked. I gave my Mom a very deep hug, kissed her on her cheeks for several times. I said, "I'll be missing you, Mom", and my Mom give me her beautiful smile. I wasn't crying at all. But deep in my heart I know my heart was truly broken.
My Dad accompanid me to leave from Palembang to the capital city. When arrived we met my travel mate Chiro and his parents. It was around 2 pm at that time while our departure will be at 6 pm. The route was Jakarta - Singapore - Frankfurt, Germany - then finally, -the land of my second life will be- Brussel, Belgium. It was 16 hours in total. A 2/3 world journey to the land of 4 seasons, the land of my dream. I still remembered my last Ashar prayer in the airport mosque. I still remembered those moments when I lifted my head and talked to Him, asked Him to take care of my family, to make sure that they'll always be alright.
It was 5 pm and our chaperons asked us to check in, yet to have the final farewell with our family. I stared at my Daddy, the one and only man I ever believe in my whole life. For a moment I felt that I was totally wrong, that I've made a truly false decision, that I shouldn't leave, I shouldn't go.
I stared him deeply and I saw it. I finally saw it. I saw from his eyes those clear and pearly water. He was standing there, my 46 years old Daddy, trying really hard to holding his tears. He was there standing toughly. While I know his heart wasn't that strong. For a moment I feel like I couldn't breathe at all. I was so hurt inside, facing the truth that from my whole life until that time, I never see him crying.
The chaperons smiled gently and said that time is over. I gave my Dad a very deep hug and tried really hard not to cry. I closed my eyes and told myself that I love him, I truly love him. My Dad released me gently, he stared at me with his warm eyes. "Don't forget to pray", he whispered. "I promise you, Dad" I saw him closely for the last time, my heart was really hurt. I walked away from him, saw him from the last time, and waved my hand. My heart was broken for the second time.
We finally entered the plane. It was Lufthansa, a German airlines and the plane was the ordinary one. It takes couple hours to arrived at Singapore. My heart was full of new hopes. From Singapore we changed the plane into the bigger one and that was a luxury and huge one. I was doing few things during the long trip. Listening to some classical songs, watching movies, reading some books, doing the regular praying. The stewards and stewardess were truly professional but it was truly cold inside so that I thought I'll be dying due to hypothermia.
Everything's was alright until midnight. It was already in the half of the trip when the pilot said that we're already above the India. Everyone was sleeping while I couldn't sleep at all. I suddenly remembered about my family. It was my Mom who came first to my mind. She was smiling at the airport and waving her hands. My tears came down slowly. I remembered my Dad whispered, " Don't forget to pray". My tears gradually became harder. Hard enough so that I couldn't even breathe gently anymore. I kept crying untill I realize, the blanket was all wet.
It was dawn and the day was just about to start when we arrived in Frankfurt. It was a tiring 14 hours journey. My body's aching but my heart was so excited. Mom, Dad, here I am, about to landing and take my first step in Europe, the land of my childhood dream. I hold my backpack tightly and ready take my first step out of the plane.
Mom, Dad, here I am, I'm already in Europe.
I still could remember those moments. The air, the cold, the freeze. I still could smell it. The sun I stared inside the Frankfurt airport. I still could saw it clearly when I closed my eyes.
We moved to a smaller plane to Brussel, Belgium and met some other exchange students from Australia. It takes only 2 hours from Frankfurt to Brussel. And after 2 exciting hours in the plane, here I am, in the capital city of European Union, Brussel, Belgium.
I closed my eyes for a moments. I was thinking about my hometown. My house, my room. I was thinking about my family. Mom, Dad, Ketie, and Didi. I was thinking about all of my bestfriends, and other things I've left in Indonesia, in the other part of the world.
I inhaled the air deeply, and exhaled it deeply too. I opened my eyes widely while smiling really bright. Never as bright as that time before. I pray to God and fulfill my heart with a lot of pray and hopes.
Belgium, we finally met.
I take my first step and saw the whole new world. The new chapter of my life.
Mom, Dad, this is for you.
Sunday, January 17, 2010
carine van gerven

Monday, January 11, 2010
from 18 to 21
Ga kerasa ya, udah 2010 aja..
Walopun kata sebagian orang kalimat di atas klise, tapi buat gue begitulah adanya. Hidup gue terasa cepet banget berlalu setelah kepulangan gue dari belgia, atau tepatnya pasca ulang tahun gue ke 18 yang dirayain di belgia bareng hostdad Erik, hostmom Carine, Opa Jos, Oma Gerda, Daniel, sahabat gue di Mater Dei Els, sahabat-sahabat AFS gue Andrea dari Costa Rica, Macarena dari Paraguay, Fa dari Thailand, dan sahabat-sahabat kecil gue yang baru kelas 6 SD Anke, Mieke, dan Lien.
Balik bentar ke ultah gue ke-18 itu..
Gue inget banget gimana ekspresi geli hostdad waktu ngedenger statement gue yang mati-matian minta diakui sedang ultah ke-17 tahun lagi -bukan malah ke-18-. Alasan gue waktu itu adalah dengan berumur 18 berarti gue udah tua dan akan terus bertambah tua tentunya. Sedangkan gue ga mau jadi tua dari tahun ke tahun. Gue inget banget gimana hostdad sampe ketawa dengan tawa khas kebapak-bapakannya sambil terus ngingetin gue yang teramat sangat keras kepala ini kalo gue ulang tahun ke-18, bukan ke-17. What a memory..
Yah, mungkin kedengerannya childish banget yak, tapi begitulah adanya. Waktu itu yang ada di pikiran gue adalah, di saat umur gue bertambah ke 18, 19, 20, dan seterusnya, hidup gue bakal jadi tambah rumit, tambah kompleks, tambah menjadi kurang menyenangkan. Dan gue pikir seiiring dengan bertambahnya usia pun orang-orang di sekitar gue bakal berubah. Orangtua bakal lebih banyak nuntut, pengen kita lulus kuliah tepat waktu, IP gede, kalo bisa cumlaude kenapa ga (yang satu ini bokap gue banget). Adek-adek gue bakal lebih menuntut gue untuk jadi lebih dewasa yang artinya gue ga bisa lagi sering-sering bertingkah barbar ke mereka (secara udah tuwir), sahabat-sahabat gue di SMA bakal sibuk dengan kuliah dan problematika hidup mereka masing-masing, dan temen-temen gue yang bakal gue miliki di kampus pun bakal jauh lebih INDIVIDUALIS. Dan itu semua terbukti bener.
Sepulang gue dari Belgi..
Sahabat-sahabat gue mulai sulit dihubungi dan diajak ketemuan. Mereka sibuk kuliah, Jabek malah kuliah nun jauh di Malay. Sebenernya kita sering banget ketemuan untuk kategori orang yang masih sahabatan sampe sekarang, tapi jarang banget bisa lengkap berlima atau bisa lama-lama. Lantas temen-temen gue di kampus asli jauh lebih individual. Entah karena emang hal tersebut merupakan ciri khas mahasiswa kedokteran secara umum yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi atau karena guenya aja yang biasa sekelas 3 tahun di SMP dan 2 tahun di SMA dengan orang-orang yang itu-itu aja sehingga bagi gue persahabatan dan kebersamaan itu penting.
Lantas enyak babe gue, mereka ga banyak berubah sih, tetep sayang sama gue, tapi di pertengahan tahun lalu gue sempet ngerasa capek sama mereka yang masih aja nuntut lebih ke gue padahal gue udah setengah mati kuliah di kedokteran ambil jadi anak BEM, ketua Medifka, Pimred BPN ISMKI, MC-MC acara FK, MC pelantikan s. ked dan dokter, dan jadi panitia ini itu lainnya. Dan nyokap bokap gue masih nyuruh gue nyoba jadi presenter acara kesehatan di TV lokal, zzz... dan seolah ga cukup, baru-baru ini gue laporan ke nyokap,
"Ma, pengumuman beasiswa prestasi udah dipajang. Nama kakak ada, IPnya dicantumin pula"
"Emang IP kamu berapa?"
"3 koma 5, yang 2 komaan banyak juga lho ma"(dengan suara memelas minta ampun)
dan taukah anda respon emak gue? respon emak gue adalah,
"Hmm berarti turun nol koma satu. Kemaren2 kan 3 koma 6, itu kenapa kok bisa turun?"
zzzzzz...
Among all, yang paling gue rasain pasca ulang tahun dan pulang ke Indonesia adalah,
ga ada perubahan berarti dalam hidup gue :(
Gue masih gini-gini aja selama hampir 3 tahun dari kepulangan gue. Masih barbar di rumah, masih 'bertopeng' di kampus, masih makan kayak kuli(walo lebih terkontrol), masih suka males belajar, masih stuck belajar nyetir, masih ga bisa bawa motor dan masih ga bisa MASAK.
sementara itu bahasa Belanda gue mengalami degradasi, gue tambah sering ngebo, dan tambah sering begadang bermalam-malam, huff...
Paling banter hal yang gue capai selama hampir 3 tahun ini adalah gue berhasil beranjak dari berat 56 kilo ke 46 kilo dan gue mulai belajar bahasa perancis. That's all.
Karena itulah di tahun ini gue pengen banget berubah, jadi lebih baik? Oke bagi gue kedengerannya terlalu klise dan kurang spesifik, jadi ini yang gue bener-bener mau:
- Lebih deket dengan Allah SWT, dalam segala aspek.
- Mencoba memberi pengertian kepada orang tua gue kalo gue adalah manusia biasa, bukan power puff girl apalagi wonder woman.
- Berhenti atau paling ga mulai mengurangi sifat barbar gue di rumah.
- Mengurangi aktivitas hibernasi dan menambah jam belajar.
- Belajar masak, lanjut belajar nyetir sama bokap sampe bisa bawa sendiri ke kampus dan mulai belajar motor (iye, gue emang cupu enggak bisa naek motor).
- Mulai merintis karir sebagai vegetarian
- Dan terakhir, melepas 'topeng' gue dimana pun dan menjadi diri gue sendiri.
Gue akan berusaha untuk ngewujudin SEMUANYA, untuk diri gue sendiri, untuk usia 21 tahun yang lebih baik.
Insya Allah.
Friday, December 11, 2009
22 tahun sudah :)
10 Desember 2009
Tepat pada tanggal tersebut, genap 22 tahun ayah dan ibu saya mengarungi rumah tangga sebagai pasangan suami istri yang saling melengkapi. Suka duka, tawa canda, dan berbagai kisah sudah banyak mereka lewati bersama.
08 Desember 2009
Saya mulai mencari-cari ide untuk memberikan kejutan yang berbeda di tahun ini. Yang pertama terlintas di pikiran saya, tentu saja adalah sebuah birthday cake yang nantinya akan saya beli di sebuah bakery shop. Dengan tambahan hiasan lilin dan sebuah kartu ucapan, saya yakin akan menjadi kejutan pertama yang cukup manis nantinya.
Kemudian saya kembali memutar otak, apa selanjutnya selain sebuah birthday cake biasa? Kalau cuma itu, toh tidak ada bedanya dengan surprise yang saya berikan di hari ulang tahun sahabat ataupun teman saya. Saya butuh kejutan yang lain, yang berbeda.
Akhirnya dalam perjalanan dari kampus Indralaya ke
Baiklah akan saya jelaskan :) Memasak memang sebuah hal biasa bagi wanita pada umumnya. Sementara saya bukanlah wanita pada umumnya :p Di rumah saya lebih terkenal sebagai tukang makan dibandingkan tukang masak. Dari dulu entah kenapa saya memang lebih tertarik untuk merapikan rumah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dibandingkan memasak. Maka dari itu, saya yakin fakta bahwa saya akan memasak untuk kedua orang tua saya dapat menjadi sebuah kejutan yang manis bagi mereka, sekaligus awal yang baik bagi saya untuk mengasah kemampuan baru, kemampuan memasak.
Baiklah, birthday cake sudah, rencana memasak juga sudah. Sudah cukupkah kejutan saya untuk mereka? Tentu saja belum. Saya merasa kedua hal tersebut tidaklah dapat ‘dimiliki’ dan ‘dikenang’ hingga mereka bercucu kelak. Karena sesampainya di lidah, tentulah pada akhirnya semua hanya akan berakhir sebagai sebuah kenangan tanpa adanya sebuah bukti.
Akhirnya, dengan kembali memutar otak, saya mendapatkan sebuah ide yang menurut saya tidak biasa dan begitu manis, sebuah hadiah yang sederhana namun dapat disimpan dan dikenang sebagai sebuah kenangan manis :)
09 Desember 2009
Tiba saatnya mempersiapkan bahan-bahan untuk memberikan kejutan tersebut. Ditemani oleh sahabat saya Nilam, saya pergi ke sebuah hypermarket dibekali dengan catatan belanja di dalam otak saya dan uang tunai dari tabungan saya sendiri, hasil dari honor menjadi mc pelantikan dokter selama ini.
Pertama, sebuah birthday cake. Kedua bahan-bahan untuk memasak. Di sinilah saya sempat kebingungan. Karena ingin menyuguhkan sesuatu yang beda, saya berniat membuat bruschetta, karena mudah dan cukup enak(maklum saya pemula di bidang masak-memasak :D. Tetapi sebenarnya jauh di lubuk hati saya, saya ingin membuat spaghetti bolognaise karena semua anggota keluarga saya suka dan adik saya Ketie yang sedang kuliah di UI, dulu sering membuatkannya untuk kami di setiap momen-momen spesial.
Sayangnya, rencana ini sempat diragukan oleh banyak pihak. Adik bungsu saya, Randi, mengerutkan dahi meragukan rencana saya membuat spaghetti pada saat saya menyampaikan rencana ini kepadanya. Kalimat yang terlontar dari mulutnya,
“Heh? Emang bakal enak?”
Aduh aduh perih hati saya mendengarnya :D. Tapi saya tetap maju tak gentar. Saya lalu menghubungi Nilam (pada tanggal 8 Desember 2009) dan berkonsultasi dengannya. Namun betapa sedihnya saya saat komentar dari sahabat saya di seberang telepon adalah sama dengan komentar dari adik saya Didi,
”Emangnya spaghettimu enak, Pris?”
Aduh, tambah pedih hati saya, hahaha. Tapi sekali lagi saya berusaha pantang menyerah dan meminta dukungan dari Ketie, sang master spaghetti. Akan tetapi lagi-lagi komentar yang saya dapat adalah,
”Emangnya spaghetti kakak bakal enak? Kakak kan belum pernah bikin spaghetti”
Oh Tuhan begitu banyak orang yang meragukan saya. Hal ini benar-benar menggoyahkan niat dan tekad kuat saya.Tetapi alhamdulillah pada detik-detik terakhir akhirnya saya tetap memutuskan untuk membuat spaghetti bolognaise bukan bruschetta. Saya ikuti kata hati saya dan saya abaikan dulu untuk sementara komentar-komentar tersebut.
Di sana, tak lupa saya membeli sebuah ’hadiah’ yang tak biasa yang dapat menjadi kejutan sekaligus kenangan manis untuk ayah dan ibu tersebut. Dan akhirnya dengan susah payah dan sekuat tenaga agar tidak ketahuan(saya sampai lewat pintu dapur segala) saya sampai ke rumah membawa semua bahan yang diperlukan dengan selamat.
10 Desember 2009
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Saya sengaja memilih momen sore hari untuk memberikan kejutan, karena sore hari adalah waktu santai dan waktu berkumpulnya keluarga.
Maka tepat pukul 3 sore, saya mulai meletakkan lilin di atas birthday cake, menghidupkannya, menaruhnya di atas nampan untuk segera dipersembahkan untuk dua orang yang paling saya cintai. Tak lupa, sebuah hadiah yang telah dibungkus kertas kado dan dibalut pita yang manis, lengkap dengan sebuah kartu ucapan.
”Happy 22nd wedding anniversary” ,ucap saya sembari tersenyum.
Ibu saya menoleh sembari tersenyum lebar. Ayah saya yang sebelumnya sedang berbaring beranjak dan segera menyambut kue manis bertabur lilin tersebut. Mereka berdua tersenyum bahagia, make a wish bersama, kemudian meniup lilin bersama. Lilin yang menandakan tepat 22 tahun mereka telah membina keluarga dengan penuh kerukunan dan kasih sayang.
Tibalah saatnya membuka ’hadiah’ yang sudah saya persiapkan. Ibu saya membaca kartu ucapan yng kami beri. Ayah saya membuka kertas kado dengan hati-hati. Dengan telaten beliau membukanya, ibu saya menunggu dengan sabar. Dan akhirnya hadiah itu terbuka seutuhnya,
Sebuah bingkai foto besar, berisi 8 buah foto ayah dan ibu saya, sejak masih muda hingga saat ini.
Foto pertama dan kedua: Foto ayah dan ibu beberapa tahun sebelum menikah. Ibu saya terlihat begitu cantik di mata saya, kulitnya putih dan badannya mungil. Ayah saya masih terlihat sangat kurus di usia mudanya, jauh berbeda dengan sekarang.
Foto ketiga: Foto ayah dan ibu saya dengan latar belakang danau Ranau dengan beberapa anak kecil yang sedang mandi di sana. Di foto ini mereka masih terlihat amat muda.
Foto keempat: Foto pernikahan ayah dan ibu saya. Mereka terlihat begitu bahagia dalam balutan baju pernikahan adat Sumatera Selatan. Pada saat menikah ibu saya berumur 22 tahun dan ayah saya berumur 27 tahun. Merupakan foto favorit saya karena momen pada foto tersebut begitu membahagiakan^^
Foto kelima: Foto ayah dan ibu saya dengan latar belakang kebun teh Pagaralam, diambil tahun kemarin. Terlihat ayah merangkul ibu dari belakang. Salah satu foto yang sangat ibu sukai.
Adapun ketiga foto terakhir diambil saat berlibur di Bandung awal Agustus silam. Mewakili keadaan dan cinta mereka pada masa sekarang.
Alhamdulillah ayah dan ibu suka dan bahagia dengan hadiah kecil saya dan adik-adik tersebut. Ayah saya sampai bergeleng-geleng, heran darimana dan kapan saya mengumpulkan foto-foto jaman dahulu beliau tersebut.
Dan akhirnya, sebagai penutup kejutan, saya memasak spaghetti bolognaise untuk mereka. Dan alhamdulillah spaghetti tersebut rasanya enak, dibuktikan dengan piring ayah, ibu, dan didi yang bersih tak bersisa ;)
Selamat ulang tahun pernikahan ke-22 ayah dan ibu.
Semoga cinta ayah dan ibu, cinta keluarga kita, akan terus bersemi sekarang, nanti, selama-lamanya.
Aamiin ya Robbal’alamiin..
We houden van jullie,
Heel erg hard..
Palembang, 11 Desember 2009
19.24 WIB
Thursday, November 26, 2009
bonne anniversaire, ketie :)
Tuesday, October 27, 2009
bonne anniversaire, maman
Thursday, October 22, 2009
why are you crying?
"Dia juga dipasangi mesin ini"
"Tante ga ngerti maksudnya apa, kadang-kadang mesinnya suka bunyi"
"Kakak saya kok ga dipasangi mesin ini ya. Nak?'"
"Kakak ibu sakit apa?""Kakak sepupu, kena stroke, kenapa ga dipasangi mesin ini ya?""Berarti kondisi jantungnya bagus dan stabil bu" aku menjawab sambil tersenyum."Oh, alhamdulillah, terus kenapa kakak sepupu saya bisa terkena stroke, Nak?"
"Kakak sepupu saya masih bisa sembuh kan nak? Masih bisa kembali seperti semula kan?"
Tuesday, September 01, 2009
awal bulan ini
Semalem -hampir sama dengan malam2 sebelumnya- aku kebangun dengan kaget setelah ngeliat something spooky di kaca besar yang nempel di lemari sebelah tempat tidur. Selama beberapa detik I was so shocked. I thought I was seeing a corpse in the mirror, really teriffying. But after my brain got used with the situation and began to work properly, finally I realized: It was my own shadow in the mirror.
Sepertinya liburan sebulan lebih membuat Lycopene saya bertambah. Di kaca itu I was looked so much brighter, staring to myself dengan begitu kosong, with a totally messy hair. Bener-bener terlihat seperti mayat. So silly, dikagetkan oleh bayangan diri sendiri di pagi buta.
Sudah tiga hari ini aku menjalani hidup dengan so plain. I have no spirits at all. Ga ada semangat buat beres-beres rumah yang akhirnya berakhir dengan complain dari mama. So sorry Mom, I just can do nothing right now. Hidup selama 2 hari ini dijalani hanya dengan membuka fb & twittering sambil ngedengerin lagu Love for a Childnya Jason Mraz. Thanks to twitter yg at least udah bisa ngurangin beban aku dengan sedikit nyampah di sana. Also to my old friend yg berada jauh di sana, makasih udah jadi teman berbagi yang begitu baik.
Oh, I'm really curious about my brother, may Allah SWT always save him everywhere he is, everyplace he goes.
Hari ini pengumuman STAN, dan Ketie ga lulus, pas seperti dugaanku. Papa keliatan agak kecewa, mama juga mungkin, tapi terlihat biasa aja. Aku sendiri baru tau sore-sore pas wall-wall-an sama dia. Ketie terlihat(atau yah terdengar) sedih banget karena merasa bener-bener bersalah udah ngecewain papa. Then I tried to advice her and alhamduillah it works. Sedari awal aku udah tau banget, sedari dia ikut tes, sedari dia dinyatain lulus di FISIP UI jurusan Ilmu Komunikasi, kalo dia ga ada niat sama sekali buat masuk STAN. I knew it that she could never passed the STAN exam. She just loves UI so much, UI has been enter his soul since the first day she was accepted in that university. Me and my whole family was so proud, we never ever imagined-especially me- that my annoying little sister can be the part of such a great university like that.
So I think UI is her passion now, part of her life, so it's so much better for my parents to let her go to reach her own dream. I know my parents do understand about this. Thanks to Allah SWT for giving us such a democratic parents like them.
Sore ini aku mulai ngupload lagi foto2 selama homestay di belgia dulu di facebook. Kali ini aku ngupload foto2 The Netherlands edition. Aku cuma bisa senyum pahit sambil miris sendiri liat foto2 aku selama ada di negeri kincir angin itu, di Maastricht, place I used to go everytime I get bored in Belgium, Efteling, Disneylandnya belanda, tempat aku for the first time naik roller coster sampe 11 kali, then Valkenburg, a nice place yg kalo di Indonesia mirip puncak, indah berbukit-bukit. So many memories about my homestay in Europe, I don't know why, but I got hurt, I miss that time so much..
Setelah perginya my brother selama 2 hari ini, setelah tidur sendiri sejak Ketie masuk asrama UI Depok, dan setelah mengupload foto2 selama di Belanda, now I know what thing I hate the most in this world:
Aku benci perpisahan.
Semoga Allah SWT selalu melindungi orang-orang yang aku sayang, dimana pun mereka berada.
Friday, August 28, 2009
I'm proud of you, Brother :)
hmm.. aku jadi penasaran.. apa didi abis menang undian? atau judi togel? atau abis malakin anak orang? atau nemu duit di jalan?
hahaha, ya ga lah, adek bungsu aku itu anak-anak baik, adem ayem, ga macem-macem*setidaknya itu yang aku tau :p. usut punya usut ternyata duit itu adalah duit beasiswa prestasi anak akselerasi yang dia dapet dari sekolah.
double woww..
ternyata si Didi bisa dapet beasiswa prestasi juga, kirain di keluarga ini cuma aku yang bisa*ya Allah sombongnyaa, hahaha
aah bangga deh punya adek kaya Didi, ternyata selain jago ngebut di jalanan*emangnya ini membanggakan??* dia juga bisa dapet beasiswa*padahal perasaan ni anak kerjaannya maen game terus*, lebih bangga lagi, semua duitnya langsung dikasih ke mama papa, ga difoya-foyain. ga langsung dibeliin sate padang atau komik kaya kakaknya kalo abis dapet beasiswa atau honor ngemsi, hahaha
selamet ya dek, I'm proud of you, semoga kamu tetep jadi adekku yang baek2 n ga macem2, semoga cita2mu jadi dokter bisa terwujud, di unsri atau UI kaya Ketie, atau di Itb karena kamu lebih jago fisika daripada biologi kan?*tapi kenapa ambil jurusan IPA biologi-kimia bukan IPA fisika-matematika? dasar dodol, haha
ga kerasa kamu udah gede sekarang, haah*keluhan seorang kakak yang bertambah tua
sekarang mah amit-amit, hahaha
Thursday, August 13, 2009
miss you Ketie..
I miss my sister..
beberapa hari ini aku selalu ngecek fb ketie, my one & only sister..
sedih juga ngebaca status-statusnya,
it seems like she is not doing well in depok right now..
yah aku bisa ngerasain apa yang dia rasain sekarang,
jauh dari keluarga, harus adaptasi dengan dunia baru,
apalagi ketie termasuk manja sama papa, kemauannya jarang banget ga diturutin*beda banget sama kakaknya, huhu*,
nah sekarang harus hidup sendiri, apa-apa sendiri, kemana-mana sendiri,
ga ada papa yang bisa nganterin, ga ada mama yang masakin, ga ada kakak-adek buat dicurhatin.
di hari-hari pertama ketie di asrama sepulang kami semua ke palembang,
dia nelponin mama papa terus, ada aja yang ditanyain, soal barang-barang yang harus dibelilah, soal galonlah, segala stekerlah, macem2 pokoknya, sebagian besar konsultasi soal barang-barang yang harus dibeli untuk menuhin keperluannya selama di asrama.
keliatan banget si ketie ga berbakat menghabiskan duit papa kayak kakaknya, hehe
*kalo aku mah beli-beli aja ga pake konsultasi lagi
dari sini aja udah keliatan, kalo ketie masih di dependent banget sama mama papa.
beda sama aku, yang dari SD aja 'dilepas', kemana2 naek angkot/bus sendiri, jadi dari kecil udah biasa ngurus apa-apa sendiri. kalo ketie, beuh mana mau pulang naek bus/angkot, maunya dijemput teruus.. jadi emang tuh anak teramat sangat family-dependent, berat banget bagi dia untuk jauh dari keluarga, heuu.
keadaannya diperparah sama kegiatan ospek dia di UI yg kayaknya ga asik,
berdasarkan status2 di fbnya, kayaknya tu ospek ga jauh2 dari bikin essai ato proposal,
sebenernya kalo ketie suka nulis, bikin essai ga susah sama sekali, tapi yah berhubung essainya juga mesti dibikin tiap malem padahal ospeknya sendiri baru selesai jam 6 sore, wajar aja kalo dia jadi capek banget.
yah.. kasian banget si ketie.. padahal masih dalam tahap adjustment di lingkungan barunya, udah harus direpotkan dengan serba-serbi tugas ospek dari fakultasnya..
kalo udah kayak gini,
aku sebagai kakak yang biasanya super kejam sama ketie jadi kasian sendiri...
semoga kamu bisa ngelewatin sebulan ospek di UI dgn lancar sist, aamiin~
I do miss u, hiks..
