Sunday, April 06, 2014

A Moment to Remember

Whoa.

It's been a while since the last time I wrote something in this blog.


Kangen juga rasanya menumpahkan segala bentuk pikiran dari yang paling ringan sampai yang paling absurd ke dalam ruang hampa tak berbatas ini. Ruang kosong tak berpenghuni yang hanya sesekali keberadaannya dijenguk oleh beberapa sosok asing di luar sana.

Begitulah, ketika memiliki kecenderungan untuk berbagi di sini hanya dalam keadaan sedih dan haru, maka yang kemudian terjadi adalah kevakuman lama dan kontinual. Bisa dilihat dengan jelas jumlah tulisan di sini: tahun 2011 hanya 2 buah, tahun 2012 sebanyak 8 buah, dan 2013 hanya 1 buah. Pun tulisan pertama dan satu-satunya di tahun 2013 tersebut lebih merupakan sebuah penggembira pengisi kekosongan daripada sebuah pemikiran absurd yang cenderung dibagi di sini.

Is it an excuse if now I say that the main cause of this continual absence is that life is going pretty well, full of blessings, and completely happy, hence there's no such a thing like the completely gloomy and sad blog post that I've used to write? I know an excuse will always remain as an excuse. Het spijt me.


But seriously, 2013 was quite a remarkable year. After finishing my 5.6 years of struggling to get a medical degree (3.8 years of preclinical years and 1.8 years of being a hospital general servant so called 'young doctor' for the senior clerkship) I finally graduated and get the MD title in December 2012. Then by the end of 2012 year I temporary moved to Bandung for taking a course to pass the national exam. Then the story of remarkable 2013 begins.

Buat saya Bandung selalu merupakan tempat yang begitu magis. Beberapa kali mengunjunginya dalam periode waktu dan kesempatan yang berbeda, Bandung selalu meninggalkan kesan yang begitu mendalam. For me, Bandung is my other home. Just like Overpelt, just like Paris, or Assisi. Me and Bandung have our own love story.

Selama di Bandung semua tempat entah mengapa seperti selalu bernafaskan kenangan. Sebuah keanehan yang nyata mengingat sebelumnya saya baru 3 kali mengunjungi kota ini, itupun dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Namun entah mengapa setiap sudut kota, setiap bentang jalan dan rindangnya pepohonan seakan menyimpan kisah dan kenangan manis yang selalu bisa saya nikmati sendiri di dalam pikiran dengan hanya membentangkan pandangan. Di Bandung ini pula 2 orang sahabat lama akhirnya bertemu dan berbagi, mendapatkan kesempatan untuk saling menatap secara nyata setelah sekian lama terhalang jarak ribuan kilometer.

Saya dan Kay.

Satu bulan berlalu saya pun harus beranjak dari kota yang selalu saya cinta ini. And always with the exactly the same feeling, a feeling that one day I will be back to this magical city, to the place I called 'home', where I'm truly belong. Di awal Februari sebelum pulang ke Palembang saya sempat menghadiri wisuda adik saya Ketie, yang lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi - Public Relations dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8. My little sister has turned to be a smart and beautiful young lady, indeed.

Kemudian di bulan Maret, April, dan Mei, hidup lebih banyak diisi dengan mengurusi perihal Ujian Kompetensi Kedokteran Indonesia (UKDI). Not a lot of things happened in these past 3 months except focusing on the national exam, doing Game of Thrones marathon, falling in love with A Song of Ice and Fire series, and keeping myself so into this G. R. R. Martin's masterpiece. I even claimed myself as a half Stark and Targaryen. I guess, I'm just a medieval era young lady who trapped in this current digital era.

Then we moved to Juni, when my internship year begins, bertempat di Martapura OKU Timur, 4-5 jam dari Palembang, dengan terik sinar matahari yang bahkan lebih ganas dibandingkan Palembang. Di Rumah Sakit yang relatif sepi dengan sarana prasarana terbatas dan cenderung apa adanya, saya memulai pengabdian sebagai dokter magang di sini. Empat bulan berlalu sebelum akhirnya pindah ke Puskesmas Rawabening BK 3, 45 menit dari Martapura, daerah yang cukup rawan dengan tingkat kriminalitas yang tinggi dan sarana prasarana kesehatan untuk sebuah puskesmas rawat inap yang lebih ala kadarnya lagi. I thank God for letting me survive there. It was quite scary there, I should admit.

Though overall it seems pretty boring, but 2013 is really a happy and blessed year for me. Living in Bandung for a month, meeting my old bestie there, attending my little sister graduation, passing the national exam, spending a lot of time with my beloved parents after so much years been so busy with the medical study, starting the internship year, little brother also graduating from STAN in the end of the year, finding my real soulmates Cece Deny and Nindi, and the last, spending time with the patients for the very first time of my life start from making my own diagnosis from their signs and symptoms, struggling with them, and watching them getting better and better after taking the therapy, all of those never ending blessings has made my 2013 year become so remarkable, extremely memorable, and so pretty I don't even have time to write my usual gloomy and sad blog post. And I really thank God, all of them, and all of it, for such a magical year.

Tahun 2011 dan 2012, merupakan tahun yang cukup berat buat saya. Namun pada akhirnya, pengkhianatan, fitnah, musibah, dan deretan kesedihan yang pada saat itu seperti tak berujung, ternyata telah mengantarkan saya kepada sebuah pintu baru. Pintu yang hanya dapat dibuka dengan kunci kerelaan, keikhlasan yang saya dapatkan setelah ditempa selama 2 tahun menelan cobaan, yang akhirnya mengantarkan saya kepada rentetan kebahagiaan, dari yang sederhana sampai yang begitu masif, yang terukur maupun tidak terukur. Dan saya bersyukur di tahun 2013 pintu itu akhirnya terbuka, membiarkan saya melangkah dan menjalani kehidupan dengan perasaan yang lebih baik dan keyakinan yang baru, begitu seterusnya hingga April 2014 ini. 


 After all, I do believe that in order to reach our happiness, we should first let all of the awful things that happens in the past go. As when all pain and sorrow finally fade away, true happiness will eventually comes.




et pour Mon Dieu, merci beaucoup.

10 comments:

Annisa Mul said...

Prisyaa. Nulis lagii~ ;'D ;'D

Anonymous said...

lama tak jumpa lagi...
hehe....
semoga sehat selalu...

pertama kali ketemu di Pondok Indah Mall..

Sukses selalu ya....

hgt

Prisya Dhiba Ramadhani said...

@Amul
Iyaa Amuul hehe :D

@Kak Teguh
Kak Teguh apa kabar? Kemarin Prisya coba cari kontak kakak tapi ga dapet kak, mau minta advice arsitek, huhu. Wah iya, udah lama sejak ga sengaja ketemu di PIM ya :)
Sukses dan sehat selalu juga kak!

Anonymous said...

Kabar Baik, Alhamdulillah...
Wahh, iya kah...
maaf, no-nya masih yg lama kah?

hihi, nnti aku sms yup...

Anonymous said...

Eh, update... lapak saya juga sepi. Ini juga iseng mampir dpt postingan baru. Sukses yah dek.

Muhammad Aldrin said...

Nice story and you are good blog writer

salam kenal ya...

Benjamin Ridwan Gunawan said...

Wow, hidupmu seperti mozaik yaa, penuh dinamika. Dan resilience mu sudah sangat teruji melalui langkah kehidupanmu di belakang. Semoga potongan mozaik di masa lalu itu menjadi bekalmu menjadi pribadi yang utuh di masa depan.

Ketika potongan2 itu bertemu dan membentuk gambar utuh yang indah, nantinya, kamu akan bernapas lega dan berkata, wow.

Dobe Darmawan said...

Ternyata ibu dokter blogger juga haha

Anonymous said...

hingga aku menapaki jalan ini...

ars ite k

kata kata terlengkap said...

ijin menyimak